Bali dilanda hujan sangat lebat sejak Selasa malam (9/9/2025) hingga Rabu (10/9/2025), yang kemudian memicu banjir dan longsor di banyak wilayah di Pulau Dewata itu. Curah hujan ekstrem, dikombinasikan dengan fenomena atmosferik tertentu, menyebabkan aliran air yang hebat serta sungai-sungai yang meluap.
Jumlah korban meninggal akibat bencana ini terus bertambah; laporan terbaru menyebut 14 orang telah tewas di Bali, sementara dua orang masih dinyatakan hilang. Tambahan laporan semalam menyebut jumlah korban sempat meningkat menjadi 16 jiwa.
Sebanyak tujuh kabupaten/kota di Bali terkena banjir dalam skala besar. Wilayah‐wilayah yang paling terdampak termasuk Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, Jembrana, Tabanan, Klungkung dan Karangasem. Kota Denpasar sendiri mencatat 81 titik banjir.
Sekitar 562 orang mengungsi akibat banjir tersebut; 327 orang dari Kabupaten Jembrana dan 235 dari Kota Denpasar dengan fasilitas umum seperti sekolah, balai desa, musala, dan banjar dipakai sebagai tempat pengungsian sementara. Selain itu, 620 jiwa (202 Kepala Keluarga) terdampak secara langsung.
Kerusakan meluas terjadi pada rumah, toko, pasar, jalan, dan fasilitas publik lainnya. Banyak rumah dan ruko yang rusak atau roboh diterjang air atau longsor. Jalan utama tergenang, jembatan dan akses jalan diblokir atau rusak, menghambat mobilitas warga baik untuk evakuasi maupun pengiriman bantuan.
Sistem suplai air bersih dan listrik juga terganggu di beberapa area, akibat genangan air serta kerusakan pada infrastruktur utilitas. Akses jalan ke bandar udara internasional I Gusti Ngurah Rai juga terpengaruh karena beberapa ruas jalan menuju bandara tergenang dan sulit dilewati.
Menurut BMKG dan pakar, hujan ekstrem dipicu oleh fenomena gelombang ekuatorial Rossby yang meningkatkan aktivitas awan konvektif secara masif. Selain itu, curah hujan yang melebihi 150 mm per hari di beberapa lokasi.
Infrastruktur drainase yang tidak memadai, banyaknya penyumbatan akibat sampah dan sedimen, serta alih fungsi lahan tanpa cadangan ruang resapan air yang memadai turut memperparah dampak banjir. Kepadatan wilayah perkotaan dan pembangunan yang masif di daerah bantaran sungai juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko.
Wilayah Denpasar menjadi salah satu daerah paling parah terdampak. Di desa-desa pinggiran sungai dan pemukiman padat penduduk, air banjir menyeret kendaraan, merusak rumah serta memutus akses jalan. Di kampung-kampung di Denpasar Utara, misalnya, banjir terjadi karena luapan Tukad Badung dan Tukad-Teba.
Pemerintah Provinsi Bali bersama BPBD dan BNPB segera menetapkan status tanggap darurat bencana selama satu minggu. Tim gabungan juga diterjunkan untuk evakuasi korban, membersihkan material banjir dan longsor, serta membuka akses jalan yang terputus.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada karena potensi hujan lebat masih bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah diharapkan untuk memperkuat sistem drainase, melakukan normalisasi sungai, serta mengatur tata ruang dan fungsi lahan agar mampu menahan limpasan air hujan ekstrem.
Bencana banjir Bali 2025 ini menjadi peringatan bahwa perubahan iklim dan aktivitas manusia yang merusak lingkungan dapat memperparah dampak bencana alam. Ke depan, perlu pendekatan mitigasi yang berkelanjutan, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, sistem peringatan dini, serta pengelolaan ruang hijau dan drainase yang efektif.
Masyarakat juga harus dipaksa ikut meminimalkan menangkap air hujan di wilayahnya masing-masing, di bangunannya masing-masing. Menangkap yang dimaksud di sini adalah meminimalkan air hujan hanya dibiarkan mengalir di permukaan, melainkan sebanyak mungkin diresapkan ke dalam tanah.
Cara menangkap atau meresapkan air hujannya, paling mudah ya menampung dalam wadah khusus agar air hujan tidak terbuang atau berpindah begitu saja. Namun, pasti perlu wadah yang sangat besar, seperti tandon air. Cara efektif lain yang bisa dilakukan, adalah memastikan ada sumur resapan di setiap bangunan.
Waspada bagi daerah lainnya. Sebab air hujan yang berdampak banjir itu tidak banyak diresapkan ke dalam tanah. Sangat pasti terjadi, air dalam jumlah banyak itu akan pindah ke daerah lain.
Di samping itu, koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat harus diperkuat terutama dalam pengambilan keputusan darurat dan pemulihan pasca-bencana agar korban dan kerugian bisa diminimalisir.
Penulis: Mochamad Zamroni
i am very shockk
BalasHapus